globalonline.id
Secangkir Kopi Utama

Corona dan Cerita Akhir Sebatang Rokok

SELASA (31/3/2020) malam, Mat Tadji sedang menunggu salah seorang sohibnya, Gassanto. Musik Dangdut, lagu lawas Rhoma Irama, secangkir kopi jahe menemaninya di saat dirinya menulis naskah berita.
Biasanya ada satu “komponen” lagi yang melengkapi menemani Mat Tadji menulis berita. Baik straight news hingga in-depth reporting (laporan mendalam). Apa itu? Rokok! Hanya saja kali ini, rokok tak ada di sampingnya.
Jam dinding menunjukkan 21.29. Mat Tadji masih asyik sendirian. Jari-jarinya “asyik” menyentuh  keyboard komputernya diiringi Lagu Rhoma, “Ani”. Dia benar-benar menikmati.
“Kalau sudah ada lagu lawas Rhoma, secangkir kopi jahe, plus rokok, menulis berita pun lancar-lancar,” kata Mat Tadji suatu ketika, yang kali ini tak ditemani sebatang rokok.
Lalu…Totok tok tok …bunyi daun pintu masuk kantor Mat Tadji. “Silahkan masuk,” katanya.
“……………………Ani… Ani…../
Engkau juga tahu ku rindu padamu/
Tetapi untuk sementara biarlah berpisah/
Ku pergi karena terpaksa demi cita-cita
Ani, Ani…”
Gassanto mengikuti lagu Ani yang “keluar” dari komputer Mat Tadji.
Pinggul dan tangannya meliuk-liuk kecil. Dia memang juga pecandu lagu lawas Rhoma.
“Bertahun-tahun aku selalu bersama kamu. Kalau sudah menyendiri seperti ini, biasanya di sampingmu ada kopi jahe, lagu dangdut dan kepulan asap rokok. Kemana sekarang kok tak ada rokok. Dungaren. Ini benar-benar tak biasa,” kata Gussanto mendekati Mat Tadji.

“Semua karena corona,” kata Mat Tadji.
“Emangnya kenapa dengan corona. Hubungannya dengan kamu yang kali ini tak merokok, tolong dijelaskan. Kok semudah itu kamu ‘mengharamkan’ rokok. Tak biasa. Sungguh tak biasa,” kata Gusssanto tersenyum tipis.
Lalu Mat Tadji bercerita. Senin (30/3/2020) malam, di sela-sela dirinya menulis berita menemukan berita soal bahaya perokok kaitannya dengan wabah corona yang sedang merebak seperti sekarang ini. Perokok dinilai lebih mempunyai peran penting atau lebih berbahaya terserang corona.
Membaca itu, Mat Tadji langsung ciut nyalinya. Apalagi, tren positif virus corona di Indonesia terus meningkat. Juga demikian dengan tingkat kematian yang diakibatkan corona juga terus meningkat.
Seperti diketahui, hingga, Selasa (31/3/2020), di seluruh dunia positif corona 787,631, meninggal dunia 37,840 orang dan dinyatakan sembuh 166,276 orang. Sementara dalam periode yang sama di Indonesia yang dinyatakan positif mencapai 1,528 orang, yang meninggal 136 orang dan dinyatakan sembuh sebanyak 81 orang. Kecendrungan untuk meningkat lagi masih ada.
“Kemaren benar-benar ciut hatiku dengan corona. Apalagi kalau dikaitkan potensi saya sebagai prokok yang rentan. Aku jelas takut terserang corona. Anjuran-anjuran kesehatan sudah saya ikuti semua. Tinggal merokok yang belum saya ‘buang’. Senin malem kemaren saya sudah menyedot satu batang Sampoerna Evolotion. Saya liat  di bungkusnya tinggal 1 batang. Aku kepingin merokoknya, tapi sisi lain aku ketakutan lebih cepat terserang corona,” kata Mat Tadji dengan mengambul nafas pelan. Sementara Gussanto manggut-manggut ae.
“Terus…,”Tanya Gussanto.
“Lalu aku mengambil keputusan cepat. Aku akan berhenti merokok. Rokok Sampoerna Evolution yang tinggal satu batang di dalam bungkusnya aku pegang. Aku pandangi sambil berjalan ke depan. Pas di depan kantor, tepatnya di selokan. Rokok terakhirku yang tinggal sebatang, dimana sejujurnya  aku ingin menghisapnya terpaksa saya buang.
Aku ingin berhenti. Aku ingin berhenti merokok  Aku takut tertular virus corona yang ganas itu,”kata Mat Tadji lagi. Gussanto pun mengatakan bahwa dirinya juga demikian. Sudah 2 hari ini, dirinya  tidak merokok. Istrinya, Jumairah selalu mengingatkan bahaya perokok di saat mewabahnya virus corona.
“Aku keder juga melihat semuanya ini. Apalagi kita sudah 57 tahun, dan diingatkan bahaya perokok di saat wabah seperti ini, hatiku cuit juga. Karena itu, aku pun bertekad juga untuk berhenti. Semoga selamanya,” kata Gussanto.
“Awas jangan ada yang menghianati. Jangan sampai merokok lagi,” Mereka berdua berjabatan tangan.
“Eh…tadi waktu masuk kantor, kamu apa sudah cuci tangan dengan sabun,” kata Mat Tadji.
“Sudahlah,” kata Gussanto sambil mengingatkan agar tidak tergoda oleh si Nasir.
Ya Nasir, si perokok berat. Dia kalau ke kantor rokoknya mesti tiga bungkus, Djis Sam Soe, Marlboro dan Gudang Garam. Tak jarang Mat Tadji “mengurangi” jatah rokok Nasir.
“Ini lihat beritanya. Ini betita keterkaitan perokok dengan virus corona di internet,”kata Mat Tadji sambil menunjukkan salah satu laman berita di komputernya.
Dikabarkan, Pemerintah telah berkali-kali meminta masyarakat untuk aktif melakukan pencegahan. Langkah pencegahan itu seperti membatasi gerak dengan lebih banyak berdiam di rumah sekaligus menjauhi kerumuman (social distancing), rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing).
Selain itu, menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga daya tahan tubuh, berolahraga, rutin berjemur di bawah sinar matahari, sebisa mungkin untuk tak menyentuh bagian wajah dengan tangan, hingga tidak merokok. Imbauan untuk tidak merokok diberikan mengingat selama ini para perokok dianggap lebih rentan tertular virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang memicu Covid-19.
Kenapa perokok dinilai lebih rentan? Sebagaimana dijelaskan di laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), para perokok dinilai lebih rentan terpapar virus corona karena beberapa alasan. Salah satunya adalah kecenderungan para perokok menggunakan jepitan jarinya ketika mengisap rokok.
Jari-jari tersebut belum tentu steril dan seringkali tidak sengaja bersentuhan dengan area bibir. Aktivitas seperti ini meningkatkan probabilitas risiko transmisi virus dari tangan ke mulut.
Para perokok juga lebih berisiko terpapar corona COVID-19 karena intensitas mulut dan paru-paru mereka yang terkena asap. Infeksi virus corona yang menyerang paru-paru menjadikan perokok lebih rentan karena organ pernafasan mereka tidak sesehat orang yang tidak merokok. Karena yang diserang virus corona COVID-19 adalah sistem respirasi (pernapasan) manusia, orang yang merokok memiliki risiko fatalitas lebih tinggi.
Apalagi, tingkat fatalitas akibat Covid-19 juga lebih berbahaya pada orang yang sudah memiliki riwayat sakit seperti diabetes, kanker, dan gangguan pernapasan. Demikian juga para perokok yang memiliki riwayat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), mereka lebih rentan terkena virus corona dengan komplikasi serius.
Dilansir dari China CDC, tingkat fatalitas bagi orang dengan riwayat sakit pernapasan adalah 6,3 persen, sementara tingkat kematian pada orang-orang normal sebanyak 2,3 persen. Selain rokok konvensional, jenis rokok elektrik seperti vaping juga merusak kesehatan paru-paru. Dilansir dari Drug Abuse, paparan aerosol dari rokok elektrik yang dapat merusak sistem respirasi, mengurangi kemampuan sel paru dalam merespons infeksi virus.(*)