globalonline.id
Indeks Mataraman Sosok Utama

Gus Kikin, Pengusaha Migas Penerus Gus Sholah

KH Abdul Hakim (Gus Kikin), Pengasuh PP Tebuireng, Minggu (9/2/2020) siang, saat menerima takziyah warga Tionghoa Surabaya yang dipimpin oleh H. Abdullah Nurawi, Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI di lingkungan PP tersebut.

KH Abdul Hakim (Gus Kikin), yang semasa KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, memang sudah dipersiapkan untuk mempimpin pondok tersebut. Pilihan almarhum Gus Sholah memang tak salah, karena sosok Gus Kikin memang “lengkap”. Selain paham agama, dia juga seorang pengusaha di bidang  minyak dan gas (migas). Pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML), sebuah perusahaan migas nasional yang diberi amanat mengelola South East Madura Blok tersebut siap meneruskan cita-cita Gus Sholah menjadikan PP Tebuireng yang terdepan, khususnya di bidang pendidikan

OLEH: ERFANDI PUTRA

Seperti diketahui Gus Sholah meninggal dunia pada Minggu (2/2/2020), pukul 20.55 di Jakarta. Tokoh nasional, termasuk Presiden Jokowi melayat di rumah duka almarhum Gus Sholah di Jl Bangka Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Gus Sholah wafat usai kritis setelah operasi jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta dalam usia 77 tahun.

“Kami merasa kehilangan sosok KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang merupakan cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari. Selain agamawan, beliau juga seorang aktivis serta politikus yang telah membawa perubahan besar di Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang. Karena itu, kami benar-benar berduka atas kepergiannya dan ini sebagai cobaan bagi keluarga. Gus Sholah adalah sosok yang ikhlas dalam meningkatkan kualitas pesantren, sehingga sampai saat ini prestasi Tebuireng demikian membanggakan,” kata KH Abdul Hakim (Gus Kikin), Pengasuh PP Tebuireng, Minggu (9/2/2020) siang, saat menerima takziyah warga Tionghoa Surabaya yang dipimpin oleh  H. Abdullah Nurawi, Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI di lingkungan PP tersebut.

Dirinya siap melanggengkan tali silaturrahim dengan masyarakat Tionghoa. “Gus Sholah dekat dengan etnis manapun. Termasuk dengan etnis Tionghoa,” katanya saat menerima rombongan YHMCHI, PITI Jatim, Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya dan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Surabaya yang melakukan takziah ke kediaman almarhum Gus Sholah. Rombongan yang berjumlah sekitar 50 orang tersebut langsung diterima Gus Kikin, Wakil Pimpinan Pondok Pesantrem Tebuireng Jombang.

Dalam rombongan tersebut turut serta, Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) H. Abdullah Nurawi beserta sejumlah pengurus seperti Hasan Makmun,  Ketua PITI Jatim H. Ir Haryanto Satryo beserta sejumlah jajarannya hingga mantan Ketua PITI Edwin Suryalaksana beserta istri, Liem Ou Yen Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, Handoko Tjokro Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Surabaya beserta sejumlah pengurus. Mereka menyerahkan bantuan Rp 50 juta untuk Yayasan Tebuireng dan diterima langsung oleh Gus Kikin.

 

Sudah Disiapkan

Pada saat memberikan sambutan di pesarean keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Gus Kikin mengemukakan bahwa wafatnya Gus Sholah sebagai cobaan bagi keluarga. Dalam pandangannya, Gus Sholah adalah sosok yang ikhlas dalam meningkatkan kualitas pesantren sehingga sampai saat ini prestasi Pesantren Tebuireng demikian membanggakan. “Berkat jasa almarhum, kini Pesantren Tebuireng perkembangannya sangat pesat,” kata Gus Kikin, sapaan akrabnya.

Menurutnya, kepergian Gus Sholah sebagai ulama adalah musibah besar. “Ini menjadi peringatan untuk mampu meningkatkan pendidikan anak-anak kita,” katanya kala itu.

Gus Kikin yang awalnya menjadi Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, dipercaya untuk meneruskan perjuangan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di banyak kesempatan, Gus Kikin mengatakan bahwa Gus Sholah sudah menyiapkan calon Pengasuh Pesantren Tebuireng sekitar empat tahun lalu. Saat itu dirinya diminta adik kandung Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu untuk menyiapkan diri.

“Januari 2016 saya diminta Gus Sholah membantu beliau dan bersiap. Kalau terjadi suksesi, kami diminta melanjutkan. Termasuk suksesi beliau sudah menyiapkan. Saya banyak belajar dari beliau,” kata Gus Kikin di Pesantren Tebuireng, Jalan Irian Jaya nomor 10, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang.

Pemilihan dirinya sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng, lanjut Gus Kikin, dilakukan Gus Sholah melalui musyawarah keluarga. Yaitu melibatkan seluruh keturunan KH M Hasyim Asy’ari, selaku pendiri pesantren. Sebanyak 200 lebih anggota keluarga Pesantren Tebuireng dikumpulkan oleh Gus Sholah pada 2016 silam. Saat itu, setiap orang yang datang diminta menyampaikan usulan soal siapa sosok yang tepat menjadi Pengasuh Tebuireng selanjutnya. Berbagai usulan sekaligus kriteria calon pengasuh kata Gus Kikin, lantas dibahas oleh tim khusus.

Tim ini terdiri dari sembilan orang perwakilan keturunan KH M Hasyim Asy’ari. Di situ diputuskan siapa yang menjadi pengasuh. “Tahun 2016 itu dulu akhirnya saya diminta Gus Sholah, saya siap. Kita sudah selesai, sudah jauh hari. Itu yang oleh Gus Sholah sudah dilakukan. Sehingga beliau tidak lagi memikirkan itu,” katanya seperti dikutip NU Online.

Sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng yang baru, Gus Kikin akan melanjutkan berbagai pengembangan pesantren yang telah dilakukan Gus Sholah selama ini. Selama dipimpin cucu KH M Hasyim Asy’ari itu, Pesantren Tebuireng telah mempunyai 15 cabang di seluruh Indonesia. Lerbih rincinya Pesantren Tebuireng Pusat di Tebuireng, Cukir, Jombang. Tebuireng II di Jombok, Ngoro, Jombang, Tebuireng III, Hajarun Najah, Indragiri Hilir, Riua, Tebuireng IV, al-Islah Indradiri Hulu, Riau, Tebuireng V, Ciganjur, Jakarta, Tebuireng VI, Binaumma, Cianjur. Tebuireng VII, Miftakhul Khoir, Bolaang Mongonowan Timur, Sulut, Tebuireng VIII, Petir, Serang, Banten. Tebuireng IX, al-Kamal, Sibolangit, Deli Serdang, Sumatra Utara, Tebuireng X, al-Hijaz, Rejang Lebong, Bengkulu, Tebuireng XI di Ambon Maluku. Tebuireng XII, Darul Shalihin, Tulang Bawang Barat, Lampung, Tebuireng XIII di Pandeglang, Banten, Tebuireng XIV, Madani, Bintan, Kepulauan Riau, serta Tebuireng XV di Samarinda, Kalimantan Timur.

“Kami akan lanjutkan semuanya. Banyak kebutuhan, banyak hal yang harus kami lakukan. Kebutuhan pendidikan, kami tetap lanjutkan itu,” kata pemilik BBS TV Surabaya itu.

Kiai yang Pengusaha Pengusaha mapan di bidang minyak dan gas bumi ini adalah pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML), sebuah perusahaan migas nasional yang diberi amanat mengelola South East Madura Block. Wilayah kerja yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) ini meliputi wilayah Sumenep dan Situbondo.

Saat ini, PT EML telah melakukan pengeboran dua sumur eksplorasi yang diberi nama Sumur ENC-01 dan ENC-02. Kedua sumur tersebut terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Saat upacara penajakan Sumur Eksplorasi ENC-01, hampir sewindu lalu tepatnya 3 April 2012, Gus Sholah yang hadir dengan beberapa kiai mengatakan bahwa sumur tersebut adalah sumur migas pertama di Indonesia yang dimiliki oleh santri.

Upacara penajakan tersebut juga dihadiri oleh beberapa purnawirawan jenderal yang dipimpin oleh Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan. Pada 9 September 2018, PT EML kembali melanjutkan pengeboran Sumur Eksplorasi ENC-02. Menurut General Manager EML Sopandi Tossin, target kedalaman sumur eksplorasi ini direncanakan mencapai sekitar 9.800 kaki dan akan menembus beberapa jenis lapisan batuan.

Di samping untuk mendapatkan data bawah permukaan dari jenis batuan dan unsur geologi lainnya, kegiatan ini juga diharapkan dapat membuktikan keberadaan hidrokarbon yang ekonomis di perut bumi Sumenep. “Kami memperkirakan, besar sumber daya sekitar 70 juta barel minyak,” ungkap Sopandi kepada wartawan, 9 September 2019.

Kegiatan pengeboran yang berlangsung selama 210 hari dan berakhir pada 6 April 2019 tersebut akhirnya berhasil menemukan potensi hidrokarbon.

Yang lebih menggembirakan, status sumur yang berhasil menembus kedalaman 7.289 kaki tersebut dinyatakan sebagai sumur penemu minyak dan gas (oil and gas discovery). Gus Kikin adalah putra almarhum KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari yang diperistri KH Ma’shum Ali, ahli falak asal Gresik dan pengarang kitab Amtsilah Tasrifiyah, atau kakak kandung KH Adlan Ali Cukir.

Sedangkan dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Dari jalur ayah ini, Gus Kikin terhitung masih adik sepupu KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, yang saat ini menjabat Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim. Usai perhelatan Konferensi Wilayah NU Jatim yang diselenggarakan di Pesantren Lirboyo Kota Kediri beberapa waktu berselang, namanya masuk sebagai Wakil Ketua PWNU Jatim.

 

PBNU Apresiasi

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Marsudi Syuhud menanggapi kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, yang kini diteruskan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Dia menyambut baik hal itu karena kepemimpinan di pesantren sebetulnya sudah terbangun sejak kecil.

“Suksesi kepemimpinan di pondok pesantren (ponpes) itu rata-rata sudah terdidik dari kecil, putra-putranya atau keluarganya, atau menantunya atau siapa saja yang memang sudah mengurusi dari awal sampai sekarang,” ujar dia, Rabu (12/2/2020).

Meski memang berat ditinggalkan almarhum Gus Sholah, Marsudi menilai Ponpes Tebuireng akan terus berdiri kokoh. “Saya melihat tetap akan kokoh secara manajemen dan ketokohan, karena model Ponpes Tebuireng itu sudah kuat,” katanya.

Marsudi menerangkan, ada tiga hal mengapa Ponpes bisa menjadi besar. Pertama, pesantren yang besar karena tokoh yang ada di dalamnya. Kedua, pesantren yang besar karena tokoh dan manajemennya. Ketiga, pesantren yang besar karena manajemennya. “Kalau (Pesantren) Tebuireng, ketokohannya besar dan manajemennya juga kuat,” ungkap dia.

Karena itu, Marsudi tidak khawatir terhadap keberlanjutan Ponpes Tebuireng. “Karena secara manajemen itu sudah established, dan secara ketokohan, (sosok) yang ditinggalkan (untuk meneruskan Ponpes Tebuireng) itu sudah diterima oleh publik,” jelasnya.

KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) kini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, meneruskan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang telah wafat pada 2 Februari 2020. Dipilihnya Gus Kikin untuk memimpin Pesantren berusia lebih dari seabad itu sebagaimana amanat yang diberikan Gus Sholah.

“Sudah (jadi keputusan). Itu sudah melalui proses panjang dengan rapat keluarga. Sampai kemudian Gus Sholah memutuskannya begitu. Jadi tidak langsung menunjuk, ada prosesnya. Hingga akhirnya memutuskan saya (sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng),” kata Gus Kikin.

Gus Kikin adalah cicit dari Pendiri NU Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Dia merupakan anak dari almarhum KH Mahfudz Anwar, dan sepupu almarhum Gus Sholah. Gus Kikin adalah generasi ke-8 dalam kepengasuhan Ponpes Tebuireng Jombang Jawa Timur.

 

Pengusaha Sukses

Gus Kikin, selain ulama juga seorang pengusaha mapan di bidang minyak dan gas bumi ini adalah pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML), sebuah perusahaan migas nasional yang diberi amanat mengelola South East Madura Blok. Wilayah kerja yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) ini meliputi wilayah Sumenep dan Situbondo. Saat ini, PT EML telah melakukan pengeboran dua sumur eksplorasi yang diberi nama Sumur ENC-01 dan ENC-02. Kedua sumur tersebut terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Saat upacara penajakan Sumur Eksplorasi ENC-01, hampir sewindu lalu tepatnya 3 April 2012, Gus Sholah yang hadir dengan beberapa kiai mengatakan bahwa sumur tersebut adalah sumur migas pertama di Indonesia yang dimiliki oleh santri. Upacara penajakan tersebut juga dihadiri oleh beberapa purnawirawan jenderal yang dipimpin oleh Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan. Pada 9 September 2018, PT EML kembali melanjutkan pengeboran Sumur Eksplorasi ENC-02.

Menurut General Manager EML Sopandi Tossin, target kedalaman sumur eksplorasi ini direncanakan mencapai sekitar 9.800 kaki dan akan menembus beberapa jenis lapisan batuan. Di samping untuk mendapatkan data bawah permukaan dari jenis batuan dan unsur geologi lainnya, kegiatan ini juga diharapkan dapat membuktikan keberadaan hidrokarbon yang ekonomis di perut bumi Sumenep. “Kami memperkirakan, besar sumber daya sekitar 70 juta barel minyak,” ungkap Sopandi kepada wartawan, 9 September 2019.

Kegiatan pengeboran yang berlangsung selama 210 hari dan berakhir pada 6 April 2019 tersebut akhirnya berhasil menemukan potensi hidrokarbon. Yang lebih menggembirakan, status sumur yang berhasil menembus kedalaman 7.289 kaki. *